Kisi
01. Menentukan
kegiatan pembelajaran yang tepat berdasarkan tahapan perkembangan intelektual
siswa
Implementasi
teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa,
Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan
baik, bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak
asing, berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya dan di
dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan
diskusi dengan teman-temanya.
Kisi
02. Menyeleksi
metode pembelajaran yang sesuai dengan pengetahuan awal peserta didik
PAIKEM
: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan
Macam-Macam
Metode pembelajaran :
1.
Metode Ceramah
Metode
pembelajaran ceramah adalah penerangan secara lisan atas
bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan
pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar. Ceramah cocok untuk
penyampaian bahan belajar yang berupa informasi dan jika bahan belajar tersebut
sukar didapatkan.
2. Metode
Diskusi
Metode
pembelajaran diskusi adalah proses
pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat,
dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga
didapatkan kesepakatan diantara mereka. Metode diskusi dapat meningkatkan anak
dalam pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan masalah.
3. Metode
Demonstrasi
Metode
pembelajaran demontrasi merupakan metode
pembelajaran yang sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana cara mengaturnya? Bagaimana proses
bekerjanya? Bagaimana proses mengerjakannya.
4.
Metode Ceramah Plus
Metode
Pembelajaran Ceramah Plus adalah metode
pengajaran yang menggunakan lebih dari satu metode, yakni metode ceramah yang
dikombinasikan dengan metode lainnya. Ada tiga macam metode ceramah plus,
diantaranya yaitu:
a.
Metode ceramah plus tanya jawab dan tugas
b.
Metode ceramah plus diskusi dan tugas
c.
Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan (CPDL)
5. Metode
Resitasi
Metode
Pembelajaran Resitasi adalah suatu metode
pengajaran dengan mengharuskan siswa membuat resume dengan kalimat sendiri.
6.
Metode Eksperimental
Metode
pembelajaran eksperimental adalah suatu cara
pengelolaan pembelajaran di mana siswa melakukan aktivitas percobaan dengan
mengalami dan membuktikan sendiri suatu yang dipelajarinya. Dalam metode ini
siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri dengan
mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, menganalisis, membuktikan dan
menarik kesimpulan sendiri tentang obyek yang dipelajarinya.
7.
Metode Study Tour (Karya wisata)
Metode
study tour Study tour (karya wisata) adalah metode mengajar dengan mengajak
peserta didik mengunjungi suatu objek guna memperluas pengetahuan dan
selanjutnya peserta didik membuat laporan dan mendiskusikan serta membukukan
hasil kunjungan tersebut dengan didampingi oleh pendidik.
8. Metode
Latihan Keterampilan
Metode
latihan keterampilan (drill method) adalah suatu metode
mengajar dengan memberikan pelatihan keterampilan secara berulang kepada
peserta didik, dan mengajaknya langsung ketempat latihan keterampilan untuk
melihat proses tujuan, fungsi, kegunaan dan manfaat sesuatu (misal: membuat tas
dari mute). Metode latihan keterampilan ini bertujuan membentuk kebiasaan atau
pola yang otomatis pada peserta didik.
9. Metode
Pengajaran Beregu
Metode
pembelajaran beregu adalah suatu metode mengajar dimana
pendidiknya lebih dari satu orang yang masing-masing mempunyai tugas. Biasanya
salah seorang pendidik ditunjuk sebagai koordinator. Cara pengujiannya,setiap
pendidik membuat soal, kemudian digabung. Jika ujian lisan maka setiap siswa
yang diuji harus langsung berhadapan dengan team pendidik tersebut
10. Peer
Theaching Method
Metode
Peer Theaching sama juga dengan mengajar sesama
teman, yaitu suatu metode mengajar yang dibantu oleh temannya sendiri.
11. Metode
Pemecahan Masalah (problem solving method)
Metode
problem solving (metode pemecahan masalah)
bukan hanya sekadar metode mengajar, tetapi juga merupakan suatu metode
berpikir, sebab dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya
yang dimulai dengan mencari data sampai pada menarik kesimpulan. Metode problem
solving merupakan metode yang merangsang berfikir dan menggunakan wawasan tanpa
melihat kualitas pendapat yang disampaikan oleh siswa. Seorang guru harus
pandai-pandai merangsang siswanya untuk mencoba mengeluarkan pendapatnya.
12. Project
Method
Project
Method adalah metode perancangan adalah suatu
metode mengajar dengan meminta peserta didik merancang suatu proyek yang akan
diteliti sebagai obyek kajian.
13. Taileren
Method
Teileren
Method yaitu suatu metode mengajar dengan
menggunakan sebagian-sebagian, misalnya ayat per ayat kemudian disambung lagi
dengan ayat lainnya yang tentu saja berkaitan dengan masalahnya
14.
Metode Global (ganze method)
Metode
Global yaitu suatu metode mengajar dimana
siswa disuruh membaca keseluruhan materi, kemudian siswa meresume apa yang
dapat mereka serap atau ambil inti sari dari materi tersebut.
Kisi
03. Menentukan langkah kegiatan
pembelajaran untuk mengatasi kesulitas yang dihadapi siswa
Kesulitan
belajar siswa mencakup
pengertian yang luas, diantaranya : (a) learning
disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan
(e) learning diasbilities.
1. Learning Disorder atau
kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu
karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami
kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya
terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan,
sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang
dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti
karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar
menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
2. Learning Disfunction
merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi
dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya
subnormalitas mental, gangguan alat indra, atau gangguan psikologis lainnya.
Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat
cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola
volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
3. Under Achiever mengacu kepada
siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di
atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang
telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat
unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah
sangat rendah.
4. Slow Learner atau lambat
belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan
waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf
potensi intelektual yang sama.
5. Learning Disabilities atau
ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar
atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi
intelektualnya.
Diagnostik mengatasi kesulitan belajar
1. Diagnosis Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab
atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa.
2. Prognosis Langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami siswa
masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya,
3. Tes diagnostic Pada konteks ini, penulis akan mencoba menyoroti tes diagnostik
kesulitan belajar yang kurang sekali diperhatikan sekolah. Lewat tes itu akan
dapat diketahui letak kelemahan seorang siswa.
Bimbingan Belajar
Bimbingan
belajar merupakan upaya guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan
dalam belajarnya.
1. Identifikasi kasus
Identifikasi kasus merupakan
upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar.
2.
Identifikasi Masalah
Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik
kesulitan atau masalah yang dihadapi siswa.
3. Remedial
atau referal (Alih Tangan Kasus)
Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan
dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan
kemampuan guru atau guru pembimbing, pemberian bantuan bimbingan dapat
dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika permasalahannya
menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka
selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi
kepada ahli yang lebih kompeten.
Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah
seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut, untuk melihat seberapa
pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan
masalah yang dihadapi siswa.
Kisi
04. Menjelaskan
teori konstruktivisme dalam pembelajaran IPA
Konstruktivisme:
Belajar adalah membangun diri sendiri
Belajar
konstruktif menghendaki partisipasi aktif siswa. Peran guru berubah bukan
sebagai sumber informasi, tetapi sebagai pendiagnosis dan fasilitator kegiatan
inti dalam pembelajaran dan perspektif konstruktivisme.
Keuntungan
belajar berdasar konstruktivisme:
Memberi
kesempatan untuk mencoba gagasan baru untuk memperoleh pengalaman shg muncul
rasa percaya diri.
Mendorong
siswa untuk memikirkan perubahan gagasan serta mengidentifikasi perubahan
gagasan mereka.
Memberikan
lingkungan belajar yang kondusif yg mendukung siswa mengungkapkan gagasan
alternatif, sehingga tidak terjebak pada kondisi “ hanya ada satu jawaban
benar”.
Tahapan
pembelajaran konstruktivisme:
Fase
eksplorasi
Pencarian
fakta
Identifikasi
fakta untuk dibuat data
Fase
klarifikasi
Perumusan
masalah
Penyajian
konflik (diskusi, penyelidikan, cari rujukan, dll)
Fase
aplikasi
Pelaporan
hasil (presentasi, dll)
Rekomendasi
“formula” baru
Publikasi,
penerapan
Kisi
05. Menentukan model pembelajaran yang
cocok untuk mencapai tujuan pembelajaran IPA tertentu
Dalam
mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi,
E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima model pembelajaran yang dianggap sesuai
dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu :
(1) Pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching Learning);
(2) Bermain Peran (Role Playing);
(3) Pembelajaran Partisipatif (Participative
Teaching and Learning);
(4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan
(5) Pembelajaran dengan Modul (Modular
Instruction).
Sementara
itu, Gulo (2005) memandang pentingnya strategi pembelajaran inkuiri
(inquiry).
Pembelajaran
Kontekstual (Contextual Teaching Learning) atau biasa disingkat CTL merupakan
konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran
dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan
menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam
pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada
peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai.
Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi
mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik
belajar.
2. Bermain
Peran (Role Playing)
Bermain
peran merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya
pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia
(interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.
Pengalaman
belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama,
komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian Melalui bermain peran,
peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antarmanusia dengan cara
memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para peserta
didik dapat mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan
berbagai strategi pemecahan masalah.
3.
Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning)
Pembelajaran
Partisipatif (Participative Teaching and Learning) merupakan model pembelajaran
dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan,
dan evaluasi pembelajaran.
4. Belajar
Tuntas (Mastery Learning)
Belajar
tuntas berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu
belajar dengan baik, dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi
yang dipelajari. Agar semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara
maksimal, pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistematis.
5.
Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction)
Modul adalah
suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun
secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik,
disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru.
Pada
umumnya pembelajaran dengan sistem modul akan melibatkan beberapa komponen,
diantaranya : (1) lembar kegiatan peserta didik; (2) lembar kerja; (3) kunci
lembar kerja; (4) lembar soal; (5) lembar jawaban dan (6) kunci jawaban.
6.
Pembelajaran Inkuiri
Pembelajaran
inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh
kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau
peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat
merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
Kisi
06. Menentukan langkah‐langkah
pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran
Menurut Djamarah (2002 : 5-6) ada empat
strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi
serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan
kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan.
2. Memilih
sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup
masyarakat.
3. Memilih
dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap
paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam
menunaikan kegiatan mengajarnya.
4. Menetapkan
norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar
keberhasilan dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil
kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat
penyempurnaan sistem instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.
Kisi
07. Menjelaskan prinsip pengembangan
kurikulum
Pengertian
Pegembangan Kurikulum
Pengembangan
kurikulum adalah sebuah proses yang merencanakan, menghasilkan suatu alat yang
lebih baik dengan didasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah
berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang baik. Dengan
kata lain pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kurikulum
baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian
yang dilakukan selama periode waktu tertentu.
Pada umumnya
ahli kurikulum memandang kegiatan pengembnagn kurikulum sebagai suatu proses
yang kontinu, merupakan suatu siklus yang menyangkut beberapa kurikulum yaitu
komponen tujuan, bahan, kegiatan dan evaluasi.
Oemar
Hamalik (2001) membagi prinsip pengembangan kurikulum menjadi delapan macam,
antara lain:
- Prinsip Berorientasi Pada Tujuan
Pengembngan kurikulum
diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu, yang bertitik tolak dari tujuan
pendidikan Nasional. Tujuan kurikulum merupakan penjabaran dan upaya untuk
mencapai tujuan satuan dan jenjang pendidikan tertentu. Tujuan kurikulum
mengadung aspek-aspek pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai. Yang
selanjutnya menumbuhkan perubahan tingkah laku peserta didik yang mencakup tiga
aspek tersebut dan bertalian dengan aspek-aspek yang terkandung dalam tujuan
pendidikan nasional.
- Prinsip Relevansi (Kesesuaian)
pengembanga kurikulum
yang meliputi tujuan, isi dan system penyampaian harus relevan (sesuai) dengan
kebutuhan dan keadaan masyarakat, tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa,
serta serasi dengan perkembnagan ilmu pengetahuan dan tegnologi.
- Prinsip Efisiensidan Efektifitas.
Pengembangan
kurikulum harus mempertimbangkan segi efisien dan pendayagunaan dana, waktu,
tenaga, dan sumber-sumber yang tersedia agar dapat mencapai hasil yang optimal.
Dana yang terbat harus digunakan sedemikina rupa dalam rangka mendukung
pelaksanaan pembelajaran. Waktu yang tersedia bagi siswa belajar disekolah juga
terbatas sehingga harus dimanfaatkan secara tepat sesuai dengan tata ajaran dan
bahan pembelajaran yang diperlukan. Tenaga disekolah juga sangat terbatas, baik
dalam jumlah maupun dalam mutunya, hendaknya didaya gunakan secara efisien
untuk melaksanakan proses pembelajaran. Demikian juga keterbatasan fasilitas
ruangan, peralatan, dan sumber kerterbacaan, harus digunakan secara tepat oleh
sswa dalam rangka pembelajaran, yang semuanya demi meningkatkan efektifitas
atau keberhasilan siswa.
- Prinsip Fleksibilitas
Kurikulum yang luwes
mudah disesuaikan, diubah, dilengkapi atau dikurangi berdasarkan tuntutan dan
keadaan ekosistem dan kemampuan setempat, jadi tidak statis atau kaku. Misalnya
dalam suatu kurikulum disediakan program pendidikan ketrampilan industri dan
pertanian. Pelaksanaaan di kota, karena tidak tersedianya lahan pertanian.,
maka yang dialaksanakan program ketrampilan pendidikn industri. Sebaliknya,
pelaksanaan di desa ditekankan pada program ketrampilan pertanian. Dalam hal
ini lingkungan sekitar, keadaaan masyarakat, dan ketersediaan tenaga dan
peralatan menjadi faktor pertimbangan dalam rangka pelaksanaan kurikulum.
- Prinsip Kontiunitas
Kurikulum disusun
secara berkesinambungan, artinya bagian-bagian, aspek-spek, materi, dan bahan
kajian disusun secara berurutan, tidak terlepas-lepas, melainkan satu sama lain
memilik hubungan fungsional yang bermakna, sesuai dengan jenjang pendidikan,
struktur dalam satuan pendidikn, tingkat perkembangan siswa. Dengan prinsip
ini, tampak jelas alur dan keterkaitan didalam kurikulum tersebut sehingga
mempermudah guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran.
- Prinsip Keseimbangan
Penyusunan kurikulum
memerhatikan keseimbangan secara proposional dan fungsional antara berbagai
program dan sub-program, antara semau mata ajaran, dan antara aspek-aspek
perilaku yang ingin dikembangkan. Keseimbangan juga perlu diadakan antara teori
dan praktik, antara unsur-unsur keilmuan sains, sosial, humaniora, dan keilmuan
perilaku. Dengan keseimbangan tersebut diaharapkan terjalin perpaduan yang
lengkap dan menyeluruh, yang satu sama lainnya saling memberikan sumbangan
terhadap pengembangan pribadi.
- Prinsip Keterpaduan
Kurikulum dirancang
dan dilaksanakan berdasarkan prinsip keterpaduan, perencanaan terpadu bertitik
tolak dari masalah atau topik dan konsistensi antara unsur-unsusrnya.
Pelaksanaan terpadu dengan melibatkan semua pihak, baik di lingkungan sekolah
maupun pada tingkat inter sektoral. Dengan keterpaduan ini diharapkan terbentuk
pribadi yang bulat dan utuh. Diamping itu juga dilaksanakan keterpaduan dalam
proses pembalajaran, baik dalam interaksi antar siswa dan guru maupun antara
teori dan praktek.
- Prinsip Mutu
Pengembangan
kurikulum berorientasi pada pendidikan mutu, yang berarti bahwa pelaksanaan
pembelajaran yang bermutu ditentukan oleh derajat mutu guru, kegiatan belajar
mengajar, peralatan,/media yang bermutu. Hasil pendidikan yang bermutu diukur
berdasarkan kriteria tujuan pendidikan nasional yang diaharapkan.
Kisi
08. Menentukan jenis tes yang tepat
sesuai indikator dan tujuan yang akan diukur
Kisi
09. Keterampilan mengajukan pertanyaan
KOMPONEN
KETRAMPILAN BERTANYA
- Pengungkapan pertanyaan yang jelas dan singkat
- Pemberian acuan
Contoh : Kita
telah mengetahui bahwa erosi tanah dapat disebabkan oleh air dan angin terutama
jika tanah itu gundul, tanah yang bagaimana lagi yang mudah terjadi erosi tanah
oleh air.
- Pemusatan
- Pemindahan giliran
- Penyebaran (ada perbedaan)
Antara
pemindahan giliran : beberapa siswa bergilir diminta menjawab pertanyaan yang
sama.
Penyebaran
: beberapa pertanyaan yang berbeda disebarkan giliranya kepada siswa yang
bertanda.
- Pemberian waktu berfikir
- Pemberian tuntunan
Ø
Mengungkapkan sekali lagi pertanyaan dengan cara lain yang
lebih sederhana.
Ø Mengajukan
pertanyaan yang lebih sederhana
Ø Mengulangi
penjelasan sebelumnya yang berhubungan pertanyaan.
Kisi
10. Membuat rumusan judul PTK
Dalam membuat rumusan masalah, terdapat
beberapa patokan yang perlu dipedomani antara lain :
- Masalah hendaknya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
- Rumusan itu hendaklah khusus, padat dan jelas, dan tidak terlalu umum. Contoh: apakah karakter menteri kabinet tahun 1985-1990 mampu meningatkan motivasi belajar siswa di kelas….. Topik ini jelas sangat luas karena meliputi wilayah yang sangat luas dan heterogen dari sosial, budaya, dan sebagainya. Karena itu topik perlu dibatasi. Misalnya “apakah metode cerita mampu meningkatkan motivasi Belajar Siswa ….”
- Rumusan itu hendaklah memberi petunjuk tentang kemungkinan mengumpulkan data dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkandung dalam rumusan-rumusan itu.
Menghindari rumusan masalah yang
terlalu umum, dan terlalu argumentatif, mengandung emosi, prasangka atau
unsur-unsur yang tidak ilmiah, Misalnya : Berbulan Madu di Pulau Sembilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar